Sabtu, 04 Februari 2012

Pagi melayang, petang menjelang


Jum,at, 3 Februari 2012. Berlalu begitu cepat, seperti hari-hari sebelumnya. Hingga   genap empat enam tahun lewat. Waktu yang sebenarnya cukup untuk berkarya. Menggoreskan pena, merangkai kata, mencurahkan ide, melayangkan imajinasi, mengabadikan tragedi, komedi, dan semua  yang ada dalam sebuah balada, sebait puisi, seikat  pantun, seuntai cerpen, sebuah artikel, sealinia  esai,  atau sebuah resensi. Tapi  apa yang kutulis? Sekedar merenda angan, melanglang buana dalam alam mimpi, memanjakan semua harapan untuk merajut dan menyulam  kata , takkan pernah terjadi. Hingga penyesalan demi penyesalan yang hadir, entah  itu buah perenungan diri atau sekedar instrospeksi.
Belum  lagi, kuagungkan Asma-Mu  ya Alloh, yang telah memberiku waktu. Memberi  ruh kehidupan, menaungi kemuliaan, menjagaku dalam keselamatan, memberkahiku kebahagiaan, menuntunku ke jalan yang benar, dan menyelimutiku dengan kedamian. Ampunilah aku ya Alloh, aku lenakan semua itu. Tak ku syukuri nikmat-Mu karna keluh dan kesah lebih besar dari syukur dan berserah diri saat dihadapkan dengan persoalan yang tak berarti.
Saat fajar menyingsing, kuberpacu menyapamu. Mengejar  kharismamu menjadi penerang dunia, dan lentera waktu. Membangunakan batang dan daun tuk bernafas menghirup udara, dan melakukan fotosintesis, menyimpan makanan dan melebarkan daun, meninggikan batang, juga memekarkan kuncup bunga hingga buah tumbuh besar, dan ranum. Kuterseok-seok  saat hiasi pagi hingga siang datang. Panas membakar bumi, seakan menghadirku tuk bangun dari mimpi. Ayo, pagimu tlah hilang dan siang menghadang. Tundukkan kepalamu dan bersujudlah mohon ampunan. Tlah kaubiarkan waktu berlalu dalam ragu dan termangu. Cuma bertopang dagu.
Ketika  siang, matahari semakin gagah bersinar. Berdiri tegak di atas kepala. Penuh semangat kau hangatkan semua. Tanpa keluh kesah hingga ciptakan harmoni kehidupan yang sungguh berirama. Aku semakin terpaku dan bergelut dengan kekesalan. Ya ampun, panasnya hari ini. Peluh mengucur di dahi, keringat membasahi tangan dan kaki. Kuberlindung di bawah pohon tuk menjauhi  terikmu. Takut terbakar muka dan kulit, meski tak berkarya sepanjang hari. Tak ada kerja yang berarti.
Hingga petang datang menjelang. Mentari kembali ke peraduan tuk berbagi peran dengan bulan dan bintang. Semburat jingga di ufuk barat, menyajikan pesona alam yang indah. Mestinya, saat kau selesaikan tugas kau nampak pucat dan lelah. Namun, kau tetap meninggalkan senyum dengan burat-burat merah. Mengajak ku berserah diri pada Tuhan akan kebesaran-Nya memutar roda kehidupan dengan teratur. Sebagai bukti kebesaran-Mu bagi orang-orang yang mau bersyukur. Dan… saat ayam jantan kembali berkokok membangunkan mimpi, aku masih terpekur dalam tidur. Saat mata kembali terbuka, badan meliuk kanan kiri, dan tangan meregang ke atas hingga punggung berbunyi. Hanya kuucapkan, “Ah, capainya badan ini”.
Akhirnya, semua lewat lewat dan terus lewat. Waktu terus berlari, berlari, dan berlari. Tak hiraukan jiwa-jiwa kerdil takbernyali. Tuk buahkan karya lukiskan indahnya dunia. Pesona pagi, hebatnya matahari, anggunnya bulan dan bintang, pekatnya malam, dan agung-Nya ciptaan Tuhan. Hanya penyesalan dan penyesalan yang kembali terulang, hingga petang penghilang dan bayang-bayang hitam menghadang.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

baguss bu !!!

Eko Hastuti mengatakan...

Makasih. Sayang, ngga meninggalkan identitas. Jadi Bu Eko, ngga bisa ngasih bonus nilai nih. Tahu sih, kamu salah satu peserta ekskul jurnalistik. Tapi, nama dan kelasmu kan Bu Eko tidak tahu, he..he..