Selasa, 07 April 2015

KEMBALI DATANG

gelegar membahana
menggetarkan jiwa-jiwa luka
bersanding dengan rintikmu yang jatuh berkejaran
sama riuhnya, menikam nyeri kepedihan
di antara puing-puing harapan dan doa
kulambungkan ilusi duka
yang terus menggerus petaka
akankah datangmu kembali menebar pilu
karna marahmu belum reda?
Gemiricik jatuh menitik
seakan kau berbisik, “ tak kan ku genapkan nestapamu
sebelum aku beku dalam ruang-ruang waktu
sebelum kemarau datang menyambutku
tuk sembunyi di relung-relung sunyi
sampai kau peduli apa arti diriku yang hakiki”
debar-debar syahdu merindu
gemuruh tak mengabarkan sendu
bukan pula firasat derita yang melanda
di belahan bumi yang sedang lara
guntur menggelegar semakin terdengar
menyesakkan dada dan membuncahkan rasa
kuharap itu bukan kabar samar menabur bunga kamboja
di belahan bumi yang menanggung dosa
hanya doa yang terucap dalam harap
di ambang senja antara gemuruh dan derai hujan
yang semakin deras mencekam
Kaki Sindoro, 16 Desember 2014

BERCERMIN DARI BENINGNYA AIR

Andai mau berbagi ruang denganmu. Mungkin petaka tak datang bertubi. Andai membiarkanmu menyelinap dalam ruas-ruas tanah. Bersemayam di bawah rimbunnya dedaunan. Bercanda di sela-sela akar yang kokoh menggurita hingga mencengkeram dan menghujam. Mungkin bencana tak kan menelan harta benda dan puluhan nyawa.
Desember ini menjadi saksi. Kepongahan dan keserakahan tlah berbuah duka. Seperti saat dibabat habis hutan-hutan belantara. Saat dibiarkan mata air mengering tanpa dosa. Hamparan tebing berganti peran. Bukan tempat bersarang bulir-bulir air resapan. Tapi tumbuh rumah-rumah dan lahan olahan.
Setiap tetes jatuh menggores peluh. Menggetarkan jiwa-jiwa rapuh. Akankah membiarkan alam terus mengeluh. Menggerus hutan ladang hingga garang. Bersama derasnya lajumu, meliku tak tentu. Hingga menerjang semua dengan senang dan riang. Untuk memberi pelajaran agar hidup lebih arif. Mau berbagi dan peduli. Ataukah mengaduh dalam umpatan dan saling menyalahkan.
Apa pun yang dipilih, semua sudah terjadi. Mungkin kehendak Tuhan sebagai pelajaran. Mungkin juga jadi bukti keagungan yang tlah disangsikan. Hanya Allah yang tahu. Mari segera memohon dan berdoa. Petaka ini segera berakhir. Hingga rintik-rintiknya kembali indah didengarkan. Derasnya bak nyanyian merdu yang didendangkan.
Air tetaplah jernih. Kilaunya memancarkan pesona kesucian. Jikalau kini keruh bercampur lumpur. Tentu bukan takdir yang ditentukan demikian. Mari bercermin dari beningnya yang menyiratkan sumber kehidupan. Jangan biarkan berubah warna hingga keruhnya menderai air mata berkepanjangan.
(Semoga segenap sanak keluarga yang tertimpa bencana di Banjarnegara dan Wonosobo diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan. Para korban yang meninggal semoga diterima disisi-Nya dalam kesucian. Amin)
Manggisan Asri, 13 Desember 2014

SEBELUM HUJAN

Meski awan hitam berarak di angkasa
Cuaca mendung menggelantung hampir jatuh
Tapi izinkan hujan tak turun barang sekejab
Agar puing-puing berserakan dapat disingkirkan
Batu-batu dan bongkahan tanah basah tersisihkan
Meski gerimis menitik perlahan
Mentari berdiam di balik awan
Tapi biarkan air tak turun menambah kedukaan
Masih banyak korban terkubur dalam
Agar satu-persatu dapat diselamatkan
Agar asa saudara-saudaraku menjadi nyata
Menanti sanak saudara yang jadi korban bencana
Sungguh longsor di Banjarnegara menjadi petaka yang luar biasa
Baju, tas dan buku tlah melebur dengan lumpur
Topi abu-abu mengiaskan kepedihan
Teringat berapa hari yang lalu kau kenakan
Saat menempuh ulangan akhir semester satu
Dan hasil ulangan belum sampai ketanganmu
Mungkin masih ada topi-topi yang lain
merah, biru atau warna cerah yang disukai bocah
terpendam dalam, menunggu uluran tangan
tuk terus meniti jalan kehidupan yang masih panjang
Maka, biarkan cuaca sedikit merona
Agar harapan tetap ada
menemukan mereka dalam kondisi bernafas
Karena kuasa dan kehendak-Mu tak berbatas

Manggisan Asri, Wonosobo, 15 Desember 2014

DALAM HUJAN

Belum lagi hitungan hari
Kecipak air jatuh menari
menitik di hijaunya daun
yang menahan haus sepanjang taun,
Kau membilas pekatnya debu,
membasuh peluh bermandikan matahari
Teriakan ketika itu,
“ Duhai panasnya Wonosobo akhir - akhir ini?
Kapan hujan menjemput kemarau yang mengibaskan dahaganya
telaga, waduk, sungai, hutan dan ribuan kolam?”
Kapan liukmu pada sungai-sungai dangkal berhias batu kerakal
Menyapa dan mengulum senyum ikan-ikan air tawar
Menjanjikan petani taklagi bermimpi
memetik bulir-bulir padi dan memanen palawija
memanggul sayur mayur yang telah kau guyur
di antara riangnya kanak - kanak bermain denganmu
Kini, ketika belum lagi hitungan hari
Kau dendangkan tembang lawas
dalam deras
Kau teriakkan dari tetes demi tetes
hingga menggemuruh kian keruhkan
kolam, sungai, waduk dan hilangkan haus telaga
Pohon-pohon berseri, tanah merah di sepanjang bukit, tebing dan ngarai
riang bernyanyi
Sungai sibuk menjulurkan mata airmu yang ganas menerjang bebatuan bisu
yang pongah menyapamu
Hingga dalam sekejab lahan tandus mengendus-endus
menanyakan, mengapa kau tak lagi bersahabat seperti dulu
Tebing longsor, jembatan amblas, pohon tumbang, banjir menerjang
dan jalan-jalan berlobang
Hadirmu yang dinanti tlah menjelma bak petaka
menyisakan duka dan penyesalan panjang
renungkan, semua ini salah siapa
Kau adalah hujan yang datangmu selalu dinanti
Kau adalah hujan yang pergimu selalu disesali
Kau adalah anugrah bagi jiwa-jiwa amanah
Kau adalah fitnah bagi jiwa-jiwa serakah
Andai bumi ini lestari, hujan adalah nyanyian alam terindah
bersama rintiknya rezeki ditaburkan
bukan petaka yang ditebarkan
Manggisan Asri, Wonosobo, 11 Desember 2014