Selasa, 29 Juni 2021

Pada Era Digital

Benda kecil tapi besar

dapat melambungkan peristiwa

melangitkan nama

mengobarkan amarah dengan gambar dan kata

membakar jiwa kosong membara

menebar kebencian, melumat cinta kasih

antara hitam putih berseteru

dan terus berjibaku di panggung semu


kita dekat tapi jauh

yang jauh terasa dekat

pada lipatan jarak dan waktu itu

sering keriuhan sekelilingku membeku

tercampak eforia digital

yang telah menjungkirbalikkan akal

serta segala pelik kehidupan nyata


saat kesepian terasa

hiruk pikuk dunia maya menjadi fenomena tempat bertualang menjelajah ruang

waktu berburu halhal terbuang

tinggallah lompatan ruang dan waktu itu

dapat mengikat makna

atau menebar angkara

hanya relung hatimu yang bisa menjawab


2021

Selasa, 07 April 2015

GORESAN TINTA

 ku ku gores kata dengan jiwa
 lukiskan panorama, pesona, fenomena
 ku ikat segala geliat
 yang terlihat dan tercekat di rongga
 ku lahap indahnya 
 ku tangkap maknanya          
 ku rindu syahdu-Mu
 ku agungkan dalam haru biru

kilau telaga
bening air
biru langit
luas samodra
hembusan angin
yang menghias cakrawala

gunung-gemunung
kicau burung
keringat petani yang hangatkan pagi
angsa menari di jernih kolam
berhias sawah terhampar luas
hijau meneduhkan mata, mendamaikan jiwa
ikan meliuk berenang riang
kecipak air meloncat-loncat kegirangan

rintik hujan berdendang
melantunkan lagu merdu mendayu
mengabarkan kedukaan dan menebar kengerian
kala diusik hadirnya, dibabat habis rumah lindungnya
dan pohon-pohon perdu di lereng-lereng itu
semakin membisu karena ulahmu
tinggal  tunggu waktu
pasti kan datang memilu

            sejatinya gunung menjulang
            memberi ketegaran dan pendirian
            bagi siapa yang sanggup menangkap pelajaran
            bukan perusak alam dengan lava pijar
            yang garang mematikan
alam begitu damai indah permai
tak kubiarkan lepas dalam genggaman
tak kubiarkan musnah dalam ingatan
kan ku rengguh dengan sungguh
kan ku simpan dan rekam
dalam untaian kata
bermakna


Manggisan Asri, Wonosobo, 7 April 2015

DI DANGAU

langit membiru dibelai angin sepoi
menyaksikan petani duduk termangu
menatap sawah dengan senyum merekah
di sampingnya pohon pepaya gagah perkasa
menggelantung segar buahnya
daun pun meliuk menyapa langit
seakan hati berkait
di dangau petani melepas penat
menghabiskan keringat saat cangkul dan sabit menjerit
terpanggang panas matahari
saat kau olah tanah dan kau tebar benih
dengan peluh menganak sungai
hamparan sawah bak permadani hijau
meneduhkan jiwa menuai asa
kala bulir-bulir padi telah menjadi
merunduk tanda berisi
kau berharap kali ini panen tiba
meski berebut dengan tikus dan cicit burung
yang terus menggerus nasib
yang terjepit dan menjerit
mengejar harga-harga yang menggila
menyesakkan dada
tapi petani tak pernah lelah
membanting tulang dengan pasrah
disaksikan dangau tempatnya mendesau
mengalunkan doa dan puja
dangau di tengah sawah pun, meneduhkan gerah
bertiang bambu beratap rumbia
kau gantung baju dan celana kerja
yang tak lagi jelas warnanya
namun kau tetap songsong hangatnya mentari pagi
sambut merdunya kicauan burung
beningnya embun di rumpun padi
di antara titian pematang
dalam himpitan hidup
yang semakin garang
kau tetap meladang
Manggisan Asri, Wonosobo, 6 April 2015

BULAN MERAH

di ambang senja
kutatap langit, temaram mulai menggigit
petang berarak menyelimuti wajah merona
menanti hadirnya sang primadona malam
rembulan sebentar lagi kan berhias
dengan secawan anggur merah
meski hanya sekejab
ku terus berharap
kau muncul di langit rumahku
kutunggu hadirmu
kusapu seluas cakrawala
di sudut-sudut angkasa tak nampak
hingga batas waktu melintas tuntas
gelap semakin merayap
dingin menyeruak di ketiak
rintik hujan pun jatuh
pupus asa, kau tak kunjung tiba
entah di langit rumahmu
mungkin awan tak cemburu
dan hujan relakan kau hadir
memulas sekilas menghias malam
menyibak pekat menyembulkan bulan
merah darah tumpah
indah
tak mengapa
sepotong langit menjerit
tertutup awan tebal
gerhana bulan total pun batal
fase samar fase parsial hambar
tinggal sepenggal harap
kau kan kembali datang kelak
dalam bayang bumi dan bias matahari
merahkan atmosfir bumi
di wajah
bulan
Manggisan Asri, Wonosobo, 5 April 2015