Minggu, 28 Juni 2009

GERAKAN PKK DI MASA DEPAN

PKK adalah singkatan dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Singkatan PKK sepertinya lebih membudaya dari pada kepanjangannya. Tidak semua masyarakat khususnya ibu-ibu memahami pengertian PKK. Bagi kader PKK tentu menyadari betul eksistensi gerakan ini yang bersifat nasional. Namun, bagi ibu-ibu yang masih awam, PKK tidak bedanya dengan arisan saja.
Yakni, suatu kegiatan pertemuan ibu-ibu yang dilaksanakan rutin setiap bulan dengan jamuan sekedarnya. Acara pun dikemas sedemikian rupa sehingga terkesan santai dan kekeluargaan. Beruntung bila ibu ketua PKK-nya hadir dan memberikan pembinaan ke arah kesejahteraan keluarga. Kalau ketua PKK tidak hadir dan pengurus tidak siap, jadilah pertemuan PKK menjadi acara ritual makan bersama. Lebih parah lagi bila pengurus PKK tidak paham hakekat PKK itu sendiri. Pertemuan PKK menjadi ajang kontes baju, perhiasan, pamer tabungan, ngrumpi kian kemari yang tak berujung pangkal. Namun, banyak juga kader PKK yang sungguh-sungguh telah memerankan diri sebagai kader. Tidak saja menjadi motor penggerak PKK, namun juga dapat dijadikan teladan bagi anggota, baik cara bertutur maupun bersikap. Hanya saja perannya sebagai penggerak jangan kebablasan menjadi otoriter. Mentang-mentang kader lalu mengatur segalanya (penentu pengambilan keputusan) tanpa mengindahkan musyawarah untuk mencapai mufakat. Kader semacam inilah yang lalu mencemari citra PKK menjadi buruk. Ujung-ujungnya anggota PKK menjadi enggan datang pada saat pertemuan, apalagi ikut berperan aktif dalam berbagai kegiatan PKK lainnya, seperti posyandu, PMT, UPGK, dan lain sebagainya.

Kondisi demikian tentu tidak berlaku secara umum. Setidaknya menjadi wacana bagi kita dalam memperingati Hari Kesatuan Gerak PKK yang jatuh pada tanggal 27 Desember 2006 untuk segera instrospeksi diri, mau dikemanakan (baca : eksistensi) PKK di masa datang. Hingga masuk era globalisasi yang menuntut peran ibu lebih maksimal dalam wadah PKK, masih banyak PR besar yang harus segera dikerjakan. Bagaimana mengubah PKK dari paradigma lama ini menjadi paradigma baru dengan tetap berpegang pada Pancasila dan UUD 1945,serta dasar hukum yang mengatur PKK guna menyongsong gerakan PKK di masa depan?

Hakekat Gerakan PKK
PKK adalah gerakan yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai motor / penggeraknya untuk membangun keluarga sejahtera sebagai unit atau kelompok terkecil dalam masyarakat ( Pedoman Pelaksanaan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan : 5 ). Pengertian ini secara lengkap telah termaktub dalam Buku Pintar PKK yang bunyinya sebagai berikut :
“PKK adalah gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai motor penggeraknya untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkjecil dalam masyarakat guna menumbuhkan, menghimpun, mengarahkan, dan membina keluarga guna mewujudkan keluarga sejahtera”.

Dari batasan PKK tersebut jelaslah bahwa tujuan gerakan PKK adalah mewujudkan keluarga sejahtera. Yaitu, keluarga yang mampu menciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan batiniah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 
Mengapa keluarga sejahtera ini harus diupayakan? Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang mempunyai arti besar dalam proses pembangunan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan wilayah terbentang dari Sabang sampai Merauke, sebenarnya terbangun atas unit-unit keluarga kecil. Apabila masing-masing keluarga sudah dapat mewujudkan tata kehidupan dan penghidupannya diliputi rasa saling pengertian, kekeluargaan yang harmonis, tentu Indonesia akan menjadi negara yang aman, damai, tentram, dan sejahtera. Jadi, kondisi keluarga dapat menjadi salah satu barometer bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana membudayakan PKK sesuai dengan eksistensinya? PKK dengan 10 program pokoknya, yakni penghayatan dan pengamalan Pancasila, gotong royong, pangan, sandang, perumahan dan tata laksana rumah tangga, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan, mengembangkan kehidupan berkoperasi, kelestarian lingkungan hidup, serta perencanaan yang sehat merupakan kekuatan yang strategis. Tidak saja dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun juga dapat menekan laju pertumbuhan penduduk dengan KB, dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Melalui program pengembangan berkoperasi, PKK dapat menanamkan dasar demokrasi ekonomi. PKK juga mengenalkan strategi untuk mengembangkan usaha guna meningkatkan taraf hidup. Yang lebih mendasar lagi, upaya menyadarkan mayarakat akan perlunya pelestarian lingkungan hidup. Intinya, bagaimana PKK melalui Pokja-Pokjanya dapat berperan aktif dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya peran serta dalam meningkatkan sektor pendidikan, khususnya pendidikan ketrampilan ?
PKK yang merupakan wadah kegiatan ibu-ibu, tidak afdol bila kurang memperhatikan sektor pendidikan. Dalam kehidupan keluarga, wanita adalah pengasuh serta pendidik yang utama dan pertama bagi putra-putrinya. Sedang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wanita adalah pelahir generasi penerus ( Bulletin Nusa Indah, 2003 : 9 ). Hal ini selaras dengan isi pidato Presiden SBY pada Hari Anak Nasional Th 2006, sebagai berikut :
“ Anak-anak adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak adalah tunas , potensi, dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak mempunyai peranan strategis yang menjamin kelangsungan bangsa di masa yang akan datang. Kita sebagai orang tua, mengemban tugas mulia untuk memberikan curahan kasih sayang, mendidik dan membesarkan anak-anak kita denga rasa tanggung jawab” (Bulletin Khusus Warta Desa, Juli 2006 ).

Agar seorang ibu dapat memerankan diri sebagai pendidik pertama dan utama, perlu adanya upaya mengembangkan kemampuan dan ketrampilan melalui optimalisasi PKK. Secara umum memang pendidikan sudah dilaksanakan di lembaga-lembaga formal. Namun, pendidikan keterampilan ( live skill ) telah menjamur di lembaga-lembaga yang berbasis masyarakat, yang tidak menutup kemungkinan ibu-ibu PKK ikut berperan di dalamnya.

Visi, Misi, dan Sasaran Gerakan PKK
Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan. Menurut Lusi Kholiq Arief dalam Materi Bimbingan teknis Pengelola Perpustakaan, Visi Gerakan PKK adalah terwujudnya keluarga sejahtera untuk menuju masyarakat madani, yaitu masyarakat yang maju, mandiri, demokratif, partisipatif, dan sadar hukum. Dengan visi tersebut, setiap keluarga disadarkan akan perannya untuk ikut mewujudkan masyarakat madani. Memang, hidup di era maju dan canggih ini, mau tidak mau harus berpikiran maju. Keluarga yang berpikiran maju tidak akan berdiam diri di tengah arus informasi yang begitu deras. Keluarga tersebut, akan selalu merasa kurang / ketinggalan jaman, sehingga tumbuh kemauan untuk selalu belajar mengejar kemajuan zaman. Keluarga yang maju, akan terbiasa berpikir positif dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan. Keluarga mandiri seperti itulah yang terbiasa hidup secara demokratis dan partisipatif dalam setiap memecahkan permasalahan. Keluarga seperti itulah yang ingin diwujudkan oleh PKK dalam perjuangannya selama ini. Keluarga mandiri dan sejahtera apabila ikut berperan serta dalam pembangunan, tidak semata-mata melaksanakan instruksi dari atas. Namun, atas kesadaran sendiri sebagai warga negara yang memang mempunyai tanggung jawab ikut berperan serta dalam pembangunan. 
Salah satu upaya untuk mewujudkan visi gerakan PKK adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat akan terwujud bila ada upaya untuk memberdayakan keluarga. Sedang yang dimaksudkan pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non-instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan agar mampu mengidentifikasi masalah , merencanakan, dan mengambil keputusan untuk melakukan pemecahan dengan benar, tanpa atau dengan bantuan pihak lain (Panduan Pemberdayaan Masyarakat, 1999 : 2). Pemberdayaan keluarga ini penting karena akan menghasilkan kemandirian keluarga.
Misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai di masa yang akan datang. Misi Gerakan PKK yaitu memberdayakan masyarakat dan menciptakan kondisi untuk meningkatkan SDM masyarakat sehingga mampu membangun dirinya berdasarkan potensi, kebutuhan aspirasi dan kewenangan yang ada. 
Guna mewujudkan misi PKK tersebut, ditetapkan pula sasaran gerakan PKK sebagai berikut :
1. Pengembangan dan peningkatan mental spiritual ( sikap dan perilaku ) sebagai insan hamba Tuhan, anggota masyarakat, dan warga negara yang dinamis serta bermanfaat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
2. Pengembangan dan peningkatan fisik material ( pangan, sandang, papan, kesehatan, dan kesempatan kerja ) yang layak serta lingkungan hidup yang sehat dan lestari melalui peningkatan pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan.
Upaya mewujudkan kesejahteraan keluarga yang antara lain dilakukan melalui gerakan PKK dengan 10 programnya telah menunjukkan keberhasilan ( Pedoman Pelaksanaan Kesatuan Gerak PKK – KB – Kesehatan Tahun 1996/1997 : 1 ). Peran serta PKK di bidang kesehatan tersebut berupa kegiatan dalam pelaksanaan program KB. Melalui kegiatan Posyandu, UPGK, KIE, BKB, BKL, PMT Pemulihan, penyuluhan-penyuluhan, PMT As, dsb. Pada kurun waktu tahun 1999 -2006 kegiatan pemberdayaan masyarakat ( termasuk didalamnya PKK ) diprioritaskan kepada pelayanan kesehatan ibu dan anak ( KIA ). Bahkan, sejak dicanangkan tahun 1996 Posyandu telah meningkat tiga kali lipat dari 67.986 pos menjadi 185.660 pos. Demikian juga upaya menumbuhkembangkan kesehatan dengan bersumberdaya masyarakat seperti Polindes, Bank Donor Darah, JPKM, Dana Sehat, Tabulin, Tassia, dsb. Seperti di Kabupaten Malang berhasil menggali partisipasi masyarakat, sehingga lebih dari 75 % desa membangun polindes.
Meskipun keberhasilan Malang tersebut sangat situasional dan tidak dapat dijadikan tolok ukur secara nasional, namun tetap merupakan keberhasilan yang membanggakan. Termasuk kegiatan-kegiatan di bidang kesehatan, seperti telah diuraikan di depan, sangatlah bagus bila dapat dipertahankan dan ditingkatkan. 
Yang perlu diprioritaskan ke depan di bidang kesehatan adalah :
a. Tingkat peran serta kader tidak sebatas petugas posyandu dan pembagi PMT, vitamin A, dan kegiatan rutin lainnya, namun diberdayakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, termasuk pengelolaan dana yang barangkali dianggarkan.
b. Peningkatan SDM kader sehingga menjadi motor penggerak PKK secara professional. Hal ini bisa dengan menyertakan dalam pelatihan-pelatihan, kursus-kursus, sarasehan / seminar, dan sebagainya.
c. Pemerataan kualitas kader PKK sampai ke pelosok-pelosok desa. Misalnya dengan memberikan bimbingan dan arahan oleh kader tingkat kabupaten kepada kader desa.
d. Peningkatan pelayanan petugas kesehatan yang ditunjuk pemerintah agar lebih baik, ramah, menyenangkan, dan cepat. Khususnya kepada warga yang menggunakan kartu sehat jangan diperlakukan lain dengan pasien biasa.

Di samping bidang kesehatan, bidang-bidang lain seperti pangan, sandang, dan lain-lainnya juga perlu ditingkatkan. Untuk bidang sandang dan pangan perlu lebih ditingkatkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan keluarga. Sesuai dengan potensi yang ada di daerah masing - masing, hendaknya didayagunakan semaksimal mungkin. Harapan lebih lanjut, upaya ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi keluarga yang akan berimbas pada ekonomi masyarakat. Bisa jadi berupa industri rumah tangga makanan dan minuman, atau usaha produksi sandang atau kursus ketrampilan sandang. Semangat kerjasama/gotong royong ini juga dapat untuk mengembangkan kehidupan berkoperasi. Koperasi merupakan dasar demokarasi ekonomi yang diharapkan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Karena itu perlu dikembangkan di kalangan keluarga, karena akan mendorong kesempatan berusaha dan kesempatan kerja di berbagai lapangan baik produksi maupun jasa.
Apabila setiap keluarga telah diberdayakan mandiri dan berkembang, bidang-bidang lain seperti kelestarian lingkungan hidup, penghayatan dan pengamalan pancasila, serta perumahan dan tata laksana rumah tangga juga akan tercapai. Terlebih lagi bila bidang pendidikan dan ketrampilan diberdayakan sejak dini di lingkungan masyrakat, akan terjembatani kesenjangan-kesenjangan di sektor lain. Untuk itu salah satu alternatifnya adalah dengan mendirikan perpustakaan desa.

Peranan PKK dalam Pemberdayaan Perpustakaan Desa
Pendidikan dan ketrampilan wanita sangat erat kaitannya dengan tugas pokok wanita / ibu dalam membina keluarga sejahtera. Karena itu wanita / ibu perlu meningkatkan diri dalam menambah pengetahuan dan ketrampilannya dengan membaca. Untuk itu diperlukan adanya perpustakaan di komunitas terkecil ( RT / RW ).
Salah satu program kerja Pokja II PKK adalah peningkatan minat baca dan pemberdayaan perpustakaan. Artinya, ada gayung bersambut antara kebutuhan pemenuhan pengetahuan dan informasi masyarakat dengan program PKK di era informasi ini. Lalu seberapa besar peranan PKK dalam pemberdayaan perpustakaan ?
PKK sebagai mitra kerja pemerintah sekaligus merupakan organisasi kemasyarakatan yang berfungsi sebagai fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing tingkatan. PKK juga berperan serta dalam mengembangkan perpustakaan , memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat dan berhasil guna. Tidak terkecuali , ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat dengan ikut serta dalam gerakan pembebasan 3 ( tiga ) Buta. 
Begitu besarnya peranan PKK dalam pemberdayaan perpustakaan desa bagi peningkatan kualitas SDM ibu-ibu PKK, maka dipandang perlu adanya perpustakaan di tingkat desa / kelurahan. Pemberdayaan perpustakaan secara optimal akan berfungsi sebagai rumah belajar masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat dari segala umur dapat menggunakan perpustakaan untuk pemberdayaan diri dan pemberdayaan masyarakat. 
Pemberdayaan adalah penguatan kemampuan, kemauan dan kemandirian masyarakat yang meliputi : 
1. Penguatan bidang ekonomi baik dalam penguasaan aset, peningkatan SDM, akses pasar, perubahan sikap mental dalam berusaha dan bekerja.
2. Penguatan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, kebudayaan, politik melalui perluasan akses , sehingga terbentuk masyarakat yang memiliki kepribadian, disiplin, mandiri dan optimis.
3. Penguatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik (Slamet Sutopo, KPM, 2006).

Penutup
PKK sebagai salah satu organisasi masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai penggeraknya mempunyai peranan strategis dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional. Sejak dicanangkan Tahun 1984 berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 28 Tahun 1984 hingga kini PKK telah memberikan kontribusi yang nyata bagi keberhasilan KB, sehingga program untuk menekan angka pertumbuhan penduduk dapat tercapai. Demikian juga peranan PKK dalam mewujudkan keluarga sehat sejahtera melalui Posyandu, PMT, UPGK, Imunisasi, dan lain-lain telah nyata hasilnya. Di bidang pembinaan gotong royong, mengembangkan kehidupan berkoperasi dan perencanaan sehat walaupun belum maksimal sudah dapat terasa geliatnya dengan adanya pertemuan rutin PKK tiap bulan. Di dalam pertemuan tersebut terdapat kegiatan menabung, pendidikan, siraman rohani , dan sebagainya.
Namun, ke depan PKK harus dapat merubah paradigma lama yang kadang menjemukan. Kegiatan-kegiatan yang terkesan bersifat otoritas , sampai ke bawah kurang memberdayakan potensi masyarakat. Karena itu, sesuai tuntutan zaman perlu adanya paradigma baru. PKK di masa depan hendaknya lebih kooperatif, demokratif, memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan menuju terwujudnya tujuan gerakan PKK. Yakni terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa, berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, memiliki kesadaran dan keadilan gender, serta kesadaran hukum dan lingkungan. Untuk itu ibu-ibu PKK harus membaca agar pintar. Ibu PKK harus mempunyai rumah belajar guna meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Dengan meningkatnya minat baca bagi ibu-ibu PKK, anak-anak dan remaja maka meningkat pula SDM masyarakat. Dengan SDM yang tinggi, wanita / ibu-ibu menjadi mandiri, demokratif, partisipatif dan sadar hukum. Termasuk sadar akan perannya sebagai pendidik yang utama dan pertama dalam keluarga yang wajib membina anak dan generasi muda menyongsong masa depan yang penuh tantangan.  

PUSTAKA :
1. Dinkes Prop Jateng. 2005. Pedoman Pekan Kesehatan Nasional
2. Pemerintah RI dan UNICEF.1999 Pemberdayaan Masyarakat.Jakarta
3. Tim Penggerak PKK Kab.Banjarnegara.-.Buku Pintar PKK
4. Tim Penggerak PKK Jateng.1995/1996.Pedoman Pelaksanaan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan
5. Tim Penggerak PKK Prop Jateng. 1990/1991. Juklak Penetapan Desa/ Kelurahan Desa Binaan PKK
6. Tim Penggerak Pembina Kesejahteraan Keluarga dengan BKKBN. 1996/1997.Pedoman Pelaksanaan Gerak PKK-KB-Kesehatan . Jakarta
7. Tim Penggerak PKK Prop Jateng.1995/1996.Buku petunjuk Teknis Organisasi dan Administrasi Umum PKK.
8. Makalah ” Peranan PLKK dalam Pemberdayaan Perpustakaan Desa ”, Lusi Kholiq Arief.2006
9. Makalah ” Pemberdayaan Masyarakat” oleh Slamet Sutopo. 2006.
10. Bulletin Nusa Indah, N0.81/XXXI/2003
11. Bulletin Khusus Warta Pustaka Untuk Desa, Akhir Juni 2006

Tidak ada komentar: