Selasa, 04 Oktober 2011

Mei Rohwati, S.Pd Guru Berprestasi dan Pecetak Siswa Berprestasi.




Mengabdi dan berprestasi, mungkin kata yang cocok untuk mendeskripsikan pahlawan tanpa tanda jasa yang satu ini. Bu Mei, begitulah beliau biasa disapa. Wanita kelahiran Wonosobo, 7 Mei 1967 ini berhasil menyandang predikat sebagai Guru Berprestasi  I Tingkat SMP Se-Kabupaten Wonosobota tahun 2010. Di tingkat Propinsi, Bu Mei menduduki peringkat 4 dari 35 peserta yang mewakili 35 kabupaten. Prestasi Bu Mei ini menambah daftar perolehan predikat guru berprestasi SMP N I Wonosobo di Tk Kabupaten  yang sebelumnya diraih oleh Purdiyanto sebagai Guru Teladan I tahun 2002, Muh. Badjuri, S. Ag sebagai Guru Teladan I tahun 2003, Dra. Eko Hastuti sebagai Guru Berprestasi I tahun 2004, dan Heru Santoso S.Pd sebagai Guru Berprestasi 3 tahun 2011.
Hal yang menarik lainnya adalah kemampuan Bu Mei dalam membimbing siswa mengikuti lomba OSN mapel Biologi. Beberapa  siswa binaan Ibu berputra tiga (Fariz, Hanif, dan Ilham) ini berhasil meraih medali. Diantaranya OSN tahun 2005 Riswi Haryatfrehni mendapat medali perak OSN Biologi, tahun 2006 Sinta Setyati Siwi mendapat medali perak, tahun 2008 Siti Dian Novita mendapat medali perak, tahun
2009 Vichi Sicha Irianto meraih medali perunggu, dan tahun 2010 pada ajang Science Camp  di Surabaya yang diikuti oleh seluruh perwakilan RSBI se-Indonesia Muhammad Reynaldi berhasil meraih medali emas.
Pada kesempatan ini pula, 1 siswa lainnya meraih medali emas, dan dua medali perunggu untuk mapel Matematika, Fisika, dan Bahasa Inggris atas nama Muhammad Fahruli, Ulfah Ulinuha Tsaqifki Nur Arif. Medali terbaru yang dicetak Bu Mei dalam membimbing siswa loma OSN yakni Medali Emas OSN Biologi atas nama Alfin Harjuno Dwi Putro tahun 2011 di Manado bersama Bu Sari Wahyuningtyas , S TP yang juga mengampu mapel Biologi kelas 8. Prestasi Alfin meraih medali emas OSN Biologi tahun 2011 tersebut menghantarkan Alfin dan Bu Mei diundang ke Jakarta mengikuti upacara HUT RI Ke-66 di Istana Negara.
Pengalaman Bu Mei yang lain adalah ketika mengikuti Diklat Guru MIPA Internasional di Australia beberapa waktu yang lalu. Ternyata dengan mengikuti diklat tersebut, kemampuannya berbahasa Inggris semakin terasah dan menambah pengetahuan, wawasan serta kompetensi beliau dalam mengajar. (Eko Hastuti)

Peninggalan Pejuang Demokrasi di Mangkubumen Solo

Jika kita berjalan-jalan ke daerah Mangkubumen dekat dengan Istana Kalitan milik mendiang  Mantan Presiden Suharto, maka kita akan menemui satu rumah tua dengan alamat di Mangkubumen Kulon I/2 disebelah Hotel Paragon Solo. Rumah ini dibangun pada Tahun 1946 oleh Mr. Mochamad Dalijono (Alm).Rumah ini menjadi saksi panjang perjuangan salah satu pejuang demokrasi Indonesia yang sebenarnya mempunyai nilai historis dan heritage yang tinggi khususnya bagi Kota Surakarta dan Indonesia pada umumnya.
Mr Moh Daliyono Bin Hardjosudiro menikah dengan Suyati binti Mangunsudomo Prodjodiwirjo keturunan ke 13 dari Sampeyan Dalem Sultan Hanyokrowati Sedo Krapyak di Klaten Jawa Tengah. Beliau juga berkiprah di bidang politik dimulai dari terjunnya beliau di bidang hukum dengan memperoleh gelar mister di bidang hukum dimana pada era penjajah gelar itu sangat sulit didapat. Di Solo baru terdapat dua orang yang mendapat gelar mister pada waktu itu yaitu Mr Moh Daliyono dan Mr.Wiji. Dengan kepiawaiannya di bidang hukum itu , beliau berprofesi sebagai advokat procureur. 
Mr. Moch. Dalijono merupakan salah satu tokoh Masyumi Nasional dan ketika Indonesia sudah merdeka Tanggal 17 Agustus 1945 ,Mr Moh Daliyono bersama banyak rekan yang mempresentasikan wakil dari Masyumi seperti Moh Natsir menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (BPKNIP) pada 30 Oktober 1945. BPKNIP sendiri adalah pelaksana pekerjaan sehari –hari Komite Nasional Pusat yang semula merupakan pembantu Presiden dalam lingkup kegiatan eksekutif . Beliau juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI Tahun 1955.
Perubahan tugas ini berdasarkan maklumat Wakil Presiden Nomor X (eks) tanggal 16 Oktober 1945 yang menetapkan bahwa sebelum terbentuknya MPR dan DPR, Komite Nasional Pusat diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara dan pekerjaan sehari-hari Komite Nasional Pusat dijalankan oleh sebuah Badan Pekerja KNIP karena gentingnya keadaan. Melalui perubahan fungsi ini, maka Komite Nasional Pusat tidak lagi berkedudukan sebagai pembantu Presiden tetapi melaksanakan fungsi legislatif yang keanggotaannya dipilih di kalangan anggota, dan bertanggungjawab kepada KNIP. Badan Pekerja KNIP (BPKNIP) ini diketuai oleh Sutan Sjahrir. Dengan syarat anggota BPKNIP diambil dari kalangan anggota Komite Nasional Pusat maka secara otomatis Mr Moh Daliyono juga merupakan salah satu pembantu dan penasehat dari Presiden Sukarno pada waktu itu. (Bimo)

MISTERI GAMELAN SEKATEN SOLO DAN JOGJAKARTA



Sejarah tradisi Sekaten yang bergulir sejak zaman Majapahit hingga kini, menyisakan misteri besar seputar Gamelan Sekaten yang dipercaya bertuah. Pasalnya, Kraton Solo dan Jogja yang kini masih bertahan, masing-masing memiliki sepasang Gamelan Sekaten. Manakah yang asli dari zaman Majapahit dan Demak Bintoro?

Mengapa Harus Menulis?

Menulis bagi sebagian orang menjadi kegiatan yang tidak menarik. Di samping membosankan atau menjenuhkan, menulis bisa jadi menyulitkan. Hingga anggapan bahwa menulis itu tidak gampang diiyakan oleh kebanyakan orang. Tentu hal ini menjadi kerpihatinan tersendiri ketika fenomena ini juga menggejala di sebagian besar siswa yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Menulis ketika belum dipahami sebagai aktifitas otak dan hati, terkesan sebagai kegiatan yang sepele atau tidak penting. Padahal betapa pentingnya menulis bagi peradaban manusia telah diakui dunia menjadi kebutuhan vital bagi kemajuan suatu generasi dan negeri. Apabila tidak ada aktifitas menulis, dunia akan diselimuti kegelapan dan stagnan.
Tidak ada sejarah, tidak ada budaya, tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat diturunkan untuk kemajuan dunia, sehingga dunia menjadi gelap gulita. Dari menulis munculah buku-buku, majalah, Koran, jurnal, tabloid, dan karya tulis bentuk lainnya sebagai curahan ide/gagasan/ pendapat/pikiran atau perasaan sebagai hasil olah pikir dan olah hati manusia. Buku menjadi penting bagi kehidupan manusia. Dengan membaca buku,  ilmu kita bertambah, wawasan kita luas, dan perasaan kita jadi lapang karena buku dapat mendewasakan pembacanya.
Begitu pentingnya buku, Bung Karno mengatakan “ Buku bisa membuat pembacanya melanglang ke berbagai belahan dunia”. Di kalangan perguruan tinggi / universitas menulis menjadi budaya ilmiah kampus. Bahkan bisa dibilang menulis menjadi makanan sehari-hari. Kebiasaan menulis akan membangun dan membuka akses yang dapat meningkatkan citra kampus. Oleh karena itu, budaya menulis di kampus harus terus ditumbuhkan dan ditingkatkan agar menjadi trade mark sebagai PT/Universitas yang berkualitas. Zaenal Abidin dalam hal ini mengatakan kalau “ Eksistensi beberapa PT/Universitas terkemuka di Indonesia mampu eksis dan berkembang pesat berawal dari banyaknya dosen atau guru besar yang mempunyai kebiasaan menulis di media massa“.
Namun, sekarang ini kebiasaan membaca sangat  kurang karena masyarakat lebih akrab dengan audiovisual. Padahal kemampuan menulis sangat didukung oleh kegemaran membaca. Membaca ibarat memberi  vitamin bagi otak. Orang yang suka membaca akan lebih banyak ide/imajinasi dapat dituangkan dalam bentuk tulisan. Membacalah sebanyak-banyaknya agar tulisan kalian lancar dan segar.

“Life is like a beautiful melody, only the lyrics are messed up”  (Hidup itu ibarat lagu yang indah, yang buruk adalah  liriknya). Ungkapan bijak itu mungkin sangat cocok dengan artikel ini. Artinya kita harus mensyukuri akan karunia Tuhan yang terlimpah pada kita, hendaknya kita isi hidup ini dengan berperilaku, berbuat, berkarya yang baik. Ingat, “ Life  isn’t  about  finding yourself. Life is abot creating yourself”  (Hidup bukan soal menemukan diri, melainkan membentuk diri). Ayolah isi hidup kita dengan berkarya, termasuk menghasilkan karya dari kegiatan menulis. (Ekohastuti)